Selasa, 12 Februari 2008

HATI ADALAH ANUGRAH

Hati adalah anugrah. Fitrahnya hati adalah terisi nilai-nilai ketuhanan,
dan dengan sendirinya 'secara fitrah' maka 'si pemilik hati' selalu mampu mengingat Penciptanya. Hati juga dihiasi dengan 'hal lain' yang dapat menjadi 'pengalih' keinginan fitrah tersebut sehingga semakin sempurnalah hati dengan potensi berbagai bentuk rasa-perasaan. Rasa cinta, amarah, keinginan, takabur dan bentuk rasa-rasa lain yang terwujud di hati seorang manusia. Jika tidak hati-hati dalam 'memainkan' kesempurnaan tersebut maka hawa-nafsu yang juga ikut mewarnai akan mampu membuat si pemilik hati terlena dan terlalaikan.

Boleh jadi, sensasi lain tersebut diciptakan sebagai suatu pilihan lain bagi manusia sebagai alat penguji 'sang manusia pemilik hati' sehingga terbentuk hati yang ter-uji keimanannya, apakah pengaruh yang ada dihatinya cenderung membawanya selalu ingat akan keberadaan dan kekuasaan Allah atau justru sebaliknya ??? Cinta kepada Harta benda, jabatan atau bahkan cinta kepada kekasih lawan jenis yang menurut hatinya "tidak tergantikan". Subhanallah !!!

Dengan 'mahkamah hati' inilah perlahan bentuk rasa hatinya mulai berjalan-perlahan mempengaruhi fikiran, terdewasakan oleh muatan perasaannya sendiri, negatif atau positifkah keseharian rasa hatinya akan menjadi kecenderungan karakter perasaan manusia itu sendiri. Bahkan bila kencenderungan hatinya selalu cenderung negatif, dan sudah tidak mampu lagi memahami 'peringatan-peringatan' penciptanya maka bencanalah bagi si pemiliknya :

"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat." (QS.2:6-7)

Hati adalah keajaiban sekaligus anugrah dari Allah SWT, yang harus kita selalu tingkatkan kesempurnaan dan kebersihan sesuai fitrahnya semula, sehingga hati akan mampu selalu 'bekerjasama' dengan fikiran untuk mengingat dan mentafakuri tanda-tanda kekuasaan Allah SWT disetiap situasi, dalam keadaan berdiri-duduk-atau berbaring.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka"(QS.3:190-191)

Hati juga sebagai cermin pribadi manusia, manusia manapun tidak akan sanggup membohongi hatinya sendiri. Inilah pagar dari Allah SWT sehingga hati juga kan menjadi tempat "persaksian" manusia terhadap segala pernyataannya dimasa sebuah pertanggungjawaban perbuatan manusia selama hidup di dunia dipertanyakan.

Sedikit manusia yang mau memikirkan dan mentafakuri serta peduli dengan hatinya sendiri. Beruntunglah manusia yang peduli dengan situasi hatinya, mereka akan selalu membawa hatinya menuju "jalan Lurus" yang senantiasa dipintanya selama ibadah sholatnya dan merugilah manusia yang sering mengabaikannya.

Wallahu 'alam bishowab.

Tidak ada komentar: